Penilaian Daur Hidup Botol PET (Polyethilena Terephtalate)
Pada Produk Minuman
Mohamad Yani, Endang Warsiki, Noviana Wulandari
Institut Pertanian Bogor
LATAR BELAKANG
Penggunaan kemasan PET dalam produk minum telah
meningkat dan bergeser dari
kemasan gelas, sehingga perlu untuk mempelajari siklus hidup kemasan PET. Penelitian
ini bertujuan untuk mengevaluasi siklus hidup botol PET pada produk minuman
teh. Penilaian
siklus kehidupan ini meliputi proses produksi, persediaan, dampak lingkungan,
dan analisis biaya. Hubungan antara produsen botol PET, produsen minuman, dan daur ulang
limbah, yang searah. Penilaian
dampak lingkungan dari PET produksi botol menunjukkan bahwa kualitas udara
ambien, kebisingan dan air limbah yang masih baik. Dampak
dari PET botol tanaman menghasilkan potensi pemanasan global, mengurangi
lapisan ozon dan hujan asam. Analisis
biaya menggambarkan bahwa harga jual dari botol PET adalah setengah harga dari
botol kaca, sementara harga wastePET serpihan adalah tiga kali lebih tinggi
dari cullet. Meskipun
kemasan PET dianggap lebih praktis, murah dan hemat, tapi daur ulang kemasan
PET belum banyak dimanfaatkan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambar 3.
Diagram alir penelitian daur hidup kemasan botol PET yang diperoleh dari
lapangan, wawancara dan studi pustaka, telah dibandingkan kategori dampak
potensial pemanasan global (GWP),
potensial pencemaran udara, potensi eutrofikasi (EP), penggunaan energi
(EN), daur-ulang limbah PET, dan
analisis biaya.

Gambar 2 Siklus
hidup kemasan botol PET (observasi lapang)
Pencemaran
dapat terjadi karena kemasan botol PET tidak dapat didaur ulang oleh
lingkungan. Semakin banyak kemasan botol PET yang digunakan semakin banyak pula
jumlah botol PET yang dapat mencemari lingkungan, sehingga dibutuhkan suatu
tindakan untuk menanggulangi limbah kemasan botol PET.
|
Karateristik energi
|
Botol PET
(MJ)
|
Botol Gelas
(
MJ )
|
|
|
Total yang tidak
dapat diperbaharui a
Total yang dapat
diperbaharui a
Total kebutuhan
energi a
Kebutuhan
bahan baku
|
4511
445
4956
28 g
|
8256
890
9146
300 g
|
Diagram disamping merupakan
perbandingan neraca massa dalam pembuatan botol PET dan botol gelas. Sehingga
dapat diketahui bahwa energy yang digunakan dalam pembuatan botol gelas lebih
besar dibandingkan dalam pembuatan botol PET.
Vellini dan
Savioli (2009) menyatakan bahwa produksi dan daur-ulang kemasan gelas sangat
memerlukan energi. Simulasi dengan
menggunakan Bousted Model menunjukkan bahwa produksi kemasan gelas lebih ramah
lingkungan daripada PET, jika faktor penggunaan kembali dan daur-ulang (reuse /recycle) lebih tinggi. Produksi kemasan gelas menggunakan 80% reuse
dibandingkan dengan PET hanya 25% saja.
Barboza et al. (2009)
menyatakan bahwa proses daur ulang PET walaupun sulit dilakukan, bila melalui
proses glikolisis dengan katalis propilen-glikol, dapat mencapai 35% daur-ulang PET menjadi poliester tidak jenuh.
KESIMPULAN
Siklus hidup
kemasan botol PET di Indonesia terdiri atas
tiga kelompok yaitu : produsen kemasan botol PET, pabrik pengguna
kemasan (perusahan minuman teh), jaringan daur-ulang kemasan botol PET untuk
bahan baku industri plastik lain.
Hasil perbandingan antara botol
PET dan botol gelas adalah biaya produksi dan biaya daur ulang yang dikeluarkan
untuk botol gelas lebih besar daripada botol PET karena memerlukan energy yang
lebih besar dibandingkan PET, hal ini disebabkan karena perbedaan sifat baha
bakunya. Sedangkan untuk biaya penanganan limbah PET lebih besar dari botol
gelas karena proses penanganan limbah PET memerlukan banyak tahapan. Harga jual
kemasan botol PET adalah setengah dari harga jual botol gelas, sedangkan harga
jual limbah serpihan PET tiga kali lebih tinggi dari pada pecahan gelas.
Kemasan PET lebih praktis, murah dan hemat tetapi sulit didaur-ulang, sehingga
kurang ramah lingkungan.
SARAN
Kajian analisis dampak
lingkungan fisik, kimia, biologi dan social ekonomi perlu dilakukan untuk
melihat lebih jauh dampak lingkungan dari Life Cycle Asessment (LCA) kemasan
botol PET.