Rabu, 06 Januari 2016

JURNAL



Penilaian Daur Hidup Botol PET (Polyethilena Terephtalate) Pada Produk Minuman
Mohamad Yani, Endang Warsiki, Noviana Wulandari
Institut Pertanian Bogor

LATAR BELAKANG
Penggunaan kemasan PET dalam produk minum telah meningkat dan bergeser dari kemasan gelas, sehingga perlu untuk mempelajari siklus hidup kemasan PET. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi siklus hidup botol PET pada produk minuman teh. Penilaian siklus kehidupan ini meliputi proses produksi, persediaan, dampak lingkungan, dan analisis biaya. Hubungan antara produsen botol PET, produsen minuman, dan daur ulang limbah, yang searah. Penilaian dampak lingkungan dari PET produksi botol menunjukkan bahwa kualitas udara ambien, kebisingan dan air limbah yang masih baik. Dampak dari PET botol tanaman menghasilkan potensi pemanasan global, mengurangi lapisan ozon dan hujan asam. Analisis biaya menggambarkan bahwa harga jual dari botol PET adalah setengah harga dari botol kaca, sementara harga wastePET serpihan adalah tiga kali lebih tinggi dari cullet. Meskipun kemasan PET dianggap lebih praktis, murah dan hemat, tapi daur ulang kemasan PET belum banyak dimanfaatkan.
HASIL DAN PEMBAHASAN












            Gambar  3.  Diagram alir penelitian daur hidup kemasan botol PET yang diperoleh dari lapangan, wawancara dan studi pustaka, telah dibandingkan kategori dampak potensial pemanasan global (GWP),  potensial pencemaran udara, potensi eutrofikasi (EP), penggunaan energi (EN), daur-ulang  limbah PET, dan analisis biaya.
Gambar 2 Siklus hidup kemasan botol PET (observasi lapang)
Pencemaran dapat terjadi karena kemasan botol PET tidak dapat didaur ulang oleh lingkungan. Semakin banyak kemasan botol PET yang digunakan semakin banyak pula jumlah botol PET yang dapat mencemari lingkungan, sehingga dibutuhkan suatu tindakan untuk menanggulangi limbah kemasan botol PET.


         Karateristik                energi
Botol PET
(MJ)
Botol Gelas
( MJ )
Total yang tidak dapat diperbaharui a
Total yang dapat diperbaharui a
Total kebutuhan energi a
Kebutuhan bahan baku
4511
445
4956
28 g
8256
890
9146
300  g
Diagram disamping merupakan perbandingan neraca massa dalam pembuatan botol PET dan botol gelas. Sehingga dapat diketahui bahwa energy yang digunakan dalam pembuatan botol gelas lebih besar dibandingkan dalam pembuatan botol PET.







Vellini dan Savioli (2009) menyatakan bahwa produksi dan daur-ulang kemasan gelas sangat memerlukan energi.  Simulasi dengan menggunakan Bousted Model menunjukkan bahwa produksi kemasan gelas lebih ramah lingkungan daripada PET, jika faktor penggunaan kembali dan daur-ulang (reuse /recycle) lebih tinggi.  Produksi kemasan gelas menggunakan 80% reuse dibandingkan dengan PET hanya 25% saja.  Barboza et al. (2009) menyatakan bahwa proses daur ulang PET walaupun sulit dilakukan, bila melalui proses glikolisis dengan katalis propilen-glikol, dapat mencapai 35%  daur-ulang PET menjadi poliester tidak jenuh.
KESIMPULAN
Siklus hidup kemasan botol PET di Indonesia terdiri atas  tiga kelompok yaitu : produsen kemasan botol PET, pabrik pengguna kemasan (perusahan minuman teh), jaringan daur-ulang kemasan botol PET untuk bahan baku industri plastik lain.
Hasil perbandingan antara botol PET dan botol gelas adalah biaya produksi dan biaya daur ulang yang dikeluarkan untuk botol gelas lebih besar daripada botol PET karena memerlukan energy yang lebih besar dibandingkan PET, hal ini disebabkan karena perbedaan sifat baha bakunya. Sedangkan untuk biaya penanganan limbah PET lebih besar dari botol gelas karena proses penanganan limbah PET memerlukan banyak tahapan. Harga jual kemasan botol PET adalah setengah dari harga jual botol gelas, sedangkan harga jual limbah serpihan PET tiga kali lebih tinggi dari pada pecahan gelas. Kemasan PET lebih praktis, murah dan hemat tetapi sulit didaur-ulang, sehingga kurang ramah lingkungan.
SARAN
Kajian analisis dampak lingkungan fisik, kimia, biologi dan social ekonomi perlu dilakukan untuk melihat lebih jauh dampak lingkungan dari Life Cycle Asessment (LCA) kemasan botol PET.

HUBUNGAN PRODUKTIVITAS DAN GREEN INDUSTRY



Produktivitas merupakan satu hal yang sangat penting bagi suatu perusahaan sebagai alat untuk memantau kinerja produksinya. produktivitas tersebut dapat dilakukan pula untuk mengetahui tingkat kinerja perusahaan secara keseluruhan serta dapat dijadikan sebagai pedoman untuk melakukan perbaikan terus-menerus (continual improvement).  Salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan menerapkan Green Productivity.
Productivity
Menurut Sumanth (1985) productivity merupakan kombinasi dari efektifitas dan efisiensi, dengan efektifitas yang berkaitan dengan performansi dan efisiensi yang berkaitan dengan penggunaan sumber daya. Dimana efektifitas merupakan tingkat pencapaian suatu objek sedangkan efisiensi adalah bagaimana penggunaan sumber daya secara optimal untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Green Productivity
 Berdasarkan APO (Asian Productivity Organization,2003) green productivity adalah suatu strategi untuk meningkatkan produktifitas bisnis dan kinerja lingkungan pada saat yang bersamaan dalam mengembangkan sosial ekonomi secara keseluruhan. Green Productivity merupakan bagian dari program peningkatan produktifitas yang ramah lingkungan dalam rangka menjawab isu global tentang sustainable development. Konsep Green Productivity diambil dari penggabungan dua hal penting dalam strategi pembangunan, yaitu: perbaikan productivity dan perlindungan lingkungan. 


Penerapan Green industry (Kemenprin 2013) dilakukan melalui konsep produksi bersih (cleaner production) melalui aplikasi 4R, yaitu Reduce (pengurangan limbah pada sumbernya), Reuse (penggunaan kembali limbah), dan Recycle (daur ulang limbah), dan Recovery (pemisahan suatu bahan atau energi dari suatu limbah).

Kesimpulan
Green Industry diharapkan menjadi komitmen setiap industry untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan akibat proses produksi dan produk yang dihasilkannya melalui efisiensi penggunaan sumberdaya secara terus menerus serta bersifat rendah karbon yang diterapkan pada pemilihan bahan baku, proses produksi, produk akhir, dan pelayanan di suatu kegiatan/industri



Sumber :
Jurnal Model Pemilihan Industri Komponen Otomotif yang Ramah Lingkungan, Triwulandari S.Dewayana, Dedy Sugiarto, Doria Hetharia
Jurnal Implementasi Green Productivity Untuk Meningkatkan  Produktivitas Pengembangan Usaha Kecil Menengah, Suhartini, ST, MT , 2012.