Rabu, 21 Oktober 2015

PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN KENIKIR (Tagetes erectus) SEBAGAI ALTERNATIF ANTIBAKTERI Staphylococcus Epidermidis PADA DEODORAN PERFUME SPRAY

PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN KENIKIR (Tagetes Erecta) SEBAGAI ALTERNATIF ANTIBAKTERI Staphylococcus Epidermidis PADA DEODORAN PERFUME SPRAY

A.    LATAR BELAKANG
Penelitian ini bertujuan unruk mengetahui efektivitas deodoran perfume spray dan ekstrak daun kenikir terhadan aktivitas bakteri dan konsentrasi optimum deodoran perfume spray dalam mengurangi aktivitas bakteri tersebut.
Bau badan merupakan salah satu masalah yang mengganggu kehidupan sehari-hari. Biasanya bau yang tidak sedap timbul bersama bau badan yang disebabkan oleh aktivitas bakteri Staphylococcus Epidermidis.
Deodoran merupakan produk yang digunakan untuk mengatasi bau badan yang disebabkan oleh keringat yang bercampur dengan bakteri. Deodoran mengurangi bau badan dengan cara menekan pertumbuhan bakteri penyebab bau badan dan antiperspirant yang mengurangi keluarnya keringat dengan cara menutup dan menghalangi pori-pori kulit ketiak. Bahan yang digunakan sebagai antiperspirant adalah Aluminium Chlorohydrate (ACH) pada roll on dan Aluminium Zirconium Tetrachlorohydrex Gly pada powder stick.
Dr. Exley dari Keele Iniversity menyatakan bahwa kandungan Aluminium Chlorohydrate pada sunscreen dapat meningkatkan resiko kanker kulit dan penyakit Alzheimer pada penggunanya. Hal ini disebabkan Aluminium bersifat neurotoksin (racun yang merusak saraf). Kris Mc Grath menyatakan “Garam Aluminium seperti Aluminium Chlorohydrate secara normal tidak menembus kulit, namun kulit yang rusak akibat dicukur memudahkan penetrasi terutama ke sistem lymphatic yang berhubungan dengan payudara.
Melihat banyaknya penyakit yang ditimbulkan dari penggunaan deodoran sintesis maka diperlukan suatu alternatif bahan yang lebih aman dengan memanfaatkan bahan alami. Kenikir (Tagetes Erecta) mengandung saponin dan flavonoida yang saat ini diketahui mempunyai aktivitas antibakteri. Oleh sebab itu diperlukan penelitian untuk mengetahui seberapa besar pengaruh ekstrak kenikir (Tagetes Erecta) terhadap aktivitas bakteri Staphylococcus Epidermidis sebagai penyebab bau badan.

B.     HASIL DAN PEMBAHASAN
·         Hasil Penelitian
Berdasarkan uji daya hambat deodoran perfume spray sebagai berikut: 
                             Rekap penilaian ke-3 deodoran :
Sampel
Tampilan
Aroma
Minat
Deodoran A
C
K
K
Deodoran B
C
C
C
Deodoran C
C
K
SK

Indikator
       Formula 1
     Formula 2
Konsentrasi  optimum
                5 %
          10      %
Uji daya hambat
           10 mm
         11,1875 mm
Warna
               hijau
           kuning
Bau
         Menyengat
Daun kenikir, tidak menyengat
Sensasi di kulit
              dingin
           dingin
Keawetan
             2 bulan
         3 minggu
Minat
   Kurang berminat
 Cukup berminat
Daya tahan
              2 jam
          4-5 jam

 
·         Pembahasan
Hasil uji khalayak terbatas menunjukkan bahwa naracoba kurang berminat pada produk ini karena komposisi alkohol yang terlalu banyak dan menusuk hidung.
Konsentrasi deodoran kenikir 10% merupakan konsentrasi paling efektif dalam menghambat bakteri.
Dari hasil pengujian ini belum lebih baik dari deodoran konvensional, namun deodoran konvensional mengandung Aluminium Chlorohydrate yang berbahaya bagi tubuh. Proses mengeluarkan keringat merupakan bagian dari metabolisme tubuh sedangkan antiperspirant bersifat menahan keluarnya keringat.
Daun kenikir merupakan daun yang mudah rapuh dan cepat rusak terutama pada suhu lembab. Daun kenikir yang rentan pada suhu lembab akan membususuk kurang dari 1 hari dan kurang dari 5 hari jika disimpan dalam lemari es. 

A.    PELUANG PENELITIAN SELANJUTNYA
Perlu dilakukan penelitian pengembangan mengenai pemanfaatan ekstrak daun kenikir sebagai alternatif antibakteri Staphyloccoccus Epidermidis pada deodoran perfume spray mengenai komposisi dan konsentrasi yang tepat dalam menghambat aktivitas bakteri Staphylococcus Epidermidis.





Jurnal diambil dari Prosiding Seminar Nasional Penelitian , Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar