PEMANFAATAN EKSTRAK
DAUN KENIKIR (Tagetes
Erecta) SEBAGAI ALTERNATIF
ANTIBAKTERI Staphylococcus
Epidermidis PADA DEODORAN PERFUME
SPRAY
A.
LATAR BELAKANG
Penelitian
ini bertujuan unruk mengetahui efektivitas deodoran perfume spray dan ekstrak
daun kenikir terhadan aktivitas bakteri dan konsentrasi optimum deodoran
perfume spray dalam mengurangi aktivitas bakteri tersebut.
Bau
badan merupakan salah satu masalah yang mengganggu kehidupan sehari-hari. Biasanya
bau yang tidak sedap timbul bersama bau badan yang disebabkan oleh aktivitas
bakteri Staphylococcus Epidermidis.
Deodoran
merupakan produk yang digunakan untuk mengatasi bau badan yang disebabkan oleh
keringat yang bercampur dengan bakteri. Deodoran mengurangi bau badan dengan
cara menekan pertumbuhan bakteri penyebab bau badan dan antiperspirant yang mengurangi keluarnya keringat dengan cara
menutup dan menghalangi pori-pori kulit ketiak. Bahan yang digunakan sebagai antiperspirant
adalah Aluminium Chlorohydrate (ACH) pada roll on dan Aluminium Zirconium
Tetrachlorohydrex Gly pada powder stick.
Dr.
Exley dari Keele Iniversity menyatakan bahwa kandungan Aluminium Chlorohydrate
pada sunscreen dapat meningkatkan resiko kanker kulit dan penyakit Alzheimer
pada penggunanya. Hal ini disebabkan Aluminium bersifat neurotoksin (racun yang
merusak saraf). Kris Mc Grath menyatakan “Garam Aluminium seperti Aluminium
Chlorohydrate secara normal tidak menembus kulit, namun kulit yang rusak akibat
dicukur memudahkan penetrasi terutama ke sistem lymphatic yang berhubungan
dengan payudara.
Melihat
banyaknya penyakit yang ditimbulkan dari penggunaan deodoran sintesis maka
diperlukan suatu alternatif bahan yang lebih aman dengan memanfaatkan bahan
alami. Kenikir (Tagetes Erecta) mengandung saponin dan flavonoida yang saat ini
diketahui mempunyai aktivitas antibakteri. Oleh sebab itu diperlukan penelitian
untuk mengetahui seberapa besar pengaruh ekstrak kenikir (Tagetes Erecta) terhadap
aktivitas bakteri Staphylococcus Epidermidis sebagai penyebab bau badan.
B.
HASIL DAN PEMBAHASAN
·
Hasil Penelitian
Berdasarkan uji daya hambat deodoran perfume spray
sebagai berikut:
Rekap
penilaian ke-3 deodoran :
|
Sampel
|
Tampilan
|
Aroma
|
Minat
|
|
Deodoran A
|
C
|
K
|
K
|
|
Deodoran B
|
C
|
C
|
C
|
|
Deodoran C
|
C
|
K
|
SK
|
|
Indikator
|
Formula 1
|
Formula 2
|
|
Konsentrasi optimum
|
5 %
|
10 %
|
|
Uji daya hambat
|
10 mm
|
11,1875 mm
|
|
Warna
|
hijau
|
kuning
|
|
Bau
|
Menyengat
|
Daun kenikir, tidak menyengat
|
|
Sensasi di kulit
|
dingin
|
dingin
|
|
Keawetan
|
2 bulan
|
3 minggu
|
|
Minat
|
Kurang berminat
|
Cukup berminat
|
|
Daya tahan
|
2 jam
|
4-5 jam
|
·
Pembahasan
Hasil
uji khalayak terbatas menunjukkan bahwa naracoba kurang berminat pada produk
ini karena komposisi alkohol yang terlalu banyak dan menusuk hidung.
Konsentrasi deodoran kenikir 10%
merupakan konsentrasi paling efektif dalam menghambat bakteri.
Dari hasil pengujian ini belum lebih
baik dari deodoran konvensional, namun deodoran konvensional mengandung
Aluminium Chlorohydrate yang berbahaya bagi tubuh. Proses mengeluarkan keringat
merupakan bagian dari metabolisme tubuh sedangkan antiperspirant bersifat
menahan keluarnya keringat.
Daun kenikir merupakan daun yang mudah rapuh dan
cepat rusak terutama pada suhu lembab. Daun kenikir yang rentan pada suhu
lembab akan membususuk kurang dari 1 hari dan kurang dari 5 hari jika disimpan dalam
lemari es.
A.
PELUANG PENELITIAN SELANJUTNYA
Perlu
dilakukan penelitian pengembangan mengenai pemanfaatan ekstrak daun kenikir
sebagai alternatif antibakteri Staphyloccoccus Epidermidis pada deodoran
perfume spray mengenai komposisi dan konsentrasi yang tepat dalam menghambat
aktivitas bakteri Staphylococcus Epidermidis.
Jurnal
diambil dari Prosiding Seminar Nasional Penelitian , Pendidikan dan Penerapan
MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar