DASAR TEORI KUANTUM DAN MODEL ATOM BOHR
PENGERTIAN DASAR TEORI QUANTUM
Secara
linguistik, kuantum atau "quantum"
[jamak: quanta], berasal dari bahasa Latin, "quantus:,
yang berarti berapa banyak, atau ukuran banyak sesuatu, yang juga menjadi asal
kata kuantitas (quantity), memiliki arti lebih-kurang
sama dengan "qadarun" dalam bahasa Arab, yang berarti kadar atau
ukuran tertentu.
Secara terminologi, kuantum atau "quantum" [jamak: quanta] dalam fisika, mengandung arti kantong, kadut, paket, atau bungkusan. Berdasarkan pada Teori Kuantum (Quantum Theory, QT, QUT) dalam fisika, tenaga atau energi hadir dalam satuan terpisah atau unit diskrit (discrete), sebagai paket energi yang disebut kuantum. Sebagai misal, kuantum dari tenaga cahaya atau energi radiasi elektromagnetik, dinamakan foton (photon), sedangkan dalam konteks tertentu, kuantum dari energi nuklir, dinamakan meson.
Secara terminologi, kuantum atau "quantum" [jamak: quanta] dalam fisika, mengandung arti kantong, kadut, paket, atau bungkusan. Berdasarkan pada Teori Kuantum (Quantum Theory, QT, QUT) dalam fisika, tenaga atau energi hadir dalam satuan terpisah atau unit diskrit (discrete), sebagai paket energi yang disebut kuantum. Sebagai misal, kuantum dari tenaga cahaya atau energi radiasi elektromagnetik, dinamakan foton (photon), sedangkan dalam konteks tertentu, kuantum dari energi nuklir, dinamakan meson.
SEJARAH DASAR TEORI QUANTUM
Teori
Kuantum (Quantum
Theory, QT, QUT) bermula di 1900 ketika fisikawan Jerman, Max Karl
Erns Ludwig Planck (1858–1947), menjelaskan fenomena pancaran
badan hitam (black body radiation, BBE, BABOR), bahwa energi
tak dipancarkan secara rata dan sinambung, tapi terputus-putus dalam
paket-paket dengan jeda tertentu, yang disebut kuantum, sehingga disebut Teori
Kuantum Planck (Planck Quantum Theory, PQT, PLAQUT), dimana
kuantitas energi sebanding dengan suatu konstanta, dan sebanding dengan
frekuesi radiasi atau berbanding terbalik dengan perioda waktu radiasi, yang
dapat dinyatakan secara matematik dalam formula fisika.
E = h
. f = h / T
dimana,
E, kuantitas energi radiasi, dalam
unit Joule (J), 5 dimensi
h, konstanta Planck = 6,625.196 x
10^-34 Joule.second (J.s), 6 dimensi
f, frekuensi radiasi, dalam unit
Hertz (Hz) atau siklus per sekon (cps), 1 dimensi
T, perioda waktu radiasi, dalam
unit second (s), 1 dimensi
Di 1905,
fisikawan Jerman, Albert Einstein (1879–1955), menggunakan
teori kuantum Planck untuk menjelaskan efek fotolistrik (photoelectric
effect, PEE). Di 1907, ia juga menggunakan teori kuantum untuk teori
tampungan panas khas (theory of specific heat capacity, TOSHC).
Di 1913, fisikawan Denmark, Neils Bohr (1885–1962) menggunakan teori kuantum Planck dalam teori atomik Bohr (Bohr atomic theory, BAT).
Sukses teori kuantum berlanjut, di 1923, efek teori tumbukan dan pencaran partikel oleh fisikawan Amerika Serikat, Arthur Holly Compton (1892–1962) [Compton Effect].
efek pergeseran spektra oleh fisikawan Jerman, Johannes Stark (1874–1957) [Stark Effect].
Kemudian di 1927, pernyataan bahwa tak ada elektron atau partikel meson dalam satu atom dapat berada dalam status kuantum sama oleh fisikawan Austria, Wolfgang Pauli (1900–1958) [Azas Pengecualian Pauli (Pauli Exclusion Principle, PEP), 1927] juga ditemukan bahwa status kuantum tak dapat secara eksak oleh fisikawan Jerman, Werner Karl Heisenberg (1901–1976) [Azas Ketaktentuan | Ketakpastian Heisenberg (Heisenberg's Uncertainty Principle, HUP), 1927)], dan lain sebagainya.
Di 1913, fisikawan Denmark, Neils Bohr (1885–1962) menggunakan teori kuantum Planck dalam teori atomik Bohr (Bohr atomic theory, BAT).
Sukses teori kuantum berlanjut, di 1923, efek teori tumbukan dan pencaran partikel oleh fisikawan Amerika Serikat, Arthur Holly Compton (1892–1962) [Compton Effect].
efek pergeseran spektra oleh fisikawan Jerman, Johannes Stark (1874–1957) [Stark Effect].
Kemudian di 1927, pernyataan bahwa tak ada elektron atau partikel meson dalam satu atom dapat berada dalam status kuantum sama oleh fisikawan Austria, Wolfgang Pauli (1900–1958) [Azas Pengecualian Pauli (Pauli Exclusion Principle, PEP), 1927] juga ditemukan bahwa status kuantum tak dapat secara eksak oleh fisikawan Jerman, Werner Karl Heisenberg (1901–1976) [Azas Ketaktentuan | Ketakpastian Heisenberg (Heisenberg's Uncertainty Principle, HUP), 1927)], dan lain sebagainya.
DASAR TEORI KUANTUM
- Sifat gelombang materi yang dikembangkan oleh De Broglie (1924)
- Persamaan gelombang yang dikembangkan oleh Schrodinger (1927)
- Prinsip ketidakpastian yang dikembangkan oleh Heisenberg (1927).
SIFAT
GELOMBANG MATERI YANG DIKEMBANGKAN OLEH DE BROGLIE.
Tahun 1923 seorang fisikawan Perancis, Louis De
Broglie mengusulkan bahwa elektron mempunyai sifat gelombang dan sebagai
partikel.
De Broglie menghitung bahwa setiap partikel mempunyai
panjang gelombang yang sama dengan konstanta plank (h) yang dibagi
dengan momentum partikel (p).
PERSAMAAN
GELOMBANG YANG DIKEMBANGKAN OLEH SCHRODINGER.
Planck dan
Einstein menyatakan bahwa radiasi energi selain bersifat gelombang juga
bersifat partikel. Schrodinger mengemukakan
teorinya bahwa materi yang bergerak selalu disertai gelombang. Jadi, partikel
selain bersifat materi juga dapat bersifat gelombang.
PRINSIP KETIDAKPASTIAN YANG DIKEMBANGKAN
OLEH HEISENBERG.
Werner
Heisenberg (1927) membuktikan bahwa kedudukan partikel seperti elektron tidak
dapat ditentukan dengan pasti pada saat yang sama. Konsep Heisenberg itu
dikenal sebagai konsep ketidakpastian Heisenberg.
Elektron
tidak mungkin mempunyai orbit (kulit) yang pasti dalam mengelilingi inti, yang
mungkin dapat ditentukan adalah kebolehjadian menemukan elektron di daerah
tertentu dalam atom. Daerah atau ruang tempat elektron dapat ditemukan disebut
orbital. Orbital merupakan tingkat energi tertentu dalam atom. Besar, bentuk,
dan kedudukan dalam ruang suatu orbital ditentukan berdasarkan teori mekanika
gelombang atau mekanika kuantum.
MODEL ATOM BOHR
Sejarah
•
Pada
tahun 400 SM seorang filsuf Yunani bernama Democritus, mengemukakan bahwa
pembagian materi bersifat diskontinu, jika suatu materi dibagi dan dibagi lagi
maka pada akhirnya akan diperoleh partikel terkecil yang tidak dapat dibagi
lagi, partikel kecil tersebut disebut atom (a = tidak ; tomos = terbagi) .
•
Namun demikian teori tentang atom tersebut
hanya merupakan spekulasi filsafat saja dan pengertiannya masih sangat
kabur.
•
Niels
bohr menyempurnakan teori Rutherford yang telah ada sebelumnya.
•
Kelemahan
teori atom Rutherford yaitu: tidak mampu untuk menerangkan mengapa elektron
tidak jatuh ke inti atom sebagai akibat gaya elektrostatik inti terhadap
elektron
Berdasarkan asas
fisika klasik, elektron sebagai partikel bermuatan bila mengitari inti yang
muatannya berlawanan, lintasannya akan berbentuk spiral sehingga akhirnya jatuh
ke inti.
- Model atom bohr mengemukakan bahwa atom terdiri dari inti atom berukuran sangat kecil dan bermuatan positif dikelilingi oleh elektron , yang mempunyai orbit (kulit atom).
- Elektron hanya boleh berada pada lintasan-lintasan tertentu yang diperbolehkan (lintasan yang ada), dan tidak boleh berada diantara dua lintasan.
Pada keadaan normal (tanpa pengaruh luar), elektron
menempati tingkat energi terendah. Keadaan seperti itu disebut tingkat dasar.
C.
Elektron
bisa berpindah dari satu orbit ke orbit lainnya. Apabila elektron berpindah dari kulit luar ke kulit yang lebih
dalam, akan dibebaskan energi dan sebaliknya akan menyerap energi.
Elektron bisa berpindah dari satu orbit ke orbit
lainnya. Apabila elektron berpindah dari
kulit luar ke kulit yang lebih dalam, akan dibebaskan energi dan sebaliknya
akan menyerap energi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar